Powered By Blogger

Sabtu, 08 Januari 2011

Prodi Akuntansi UMY Raih Akreditasi A

Prodi Akuntansi UMY Raih Akreditasi A

Cuk Sahana - Okezone
Rabu, 5 Januari 2011 - 15:19 wib

Image: corbis.com
YOGYAKARTA- Dengan penciptaan atmosfer akademis dan pembentukan karakter kompetitif bagi mahasiswanya, Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali meraih akreditasi peringkat A atau Sangat Baik yang berlaku hingga Desember 2015 mendatang.

Demikian disampaikan Kepala Prodi Akuntansi UMY, Ahim Abdurahim, M.Si., di Kampus Terpadu UMY, kemarin. Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor: 029/BAN-PT/Ak-XIII/S1/XII/2010, Prodi Akuntasi UMY meraih akreditasi A dengan mendapatkan poin 367.

Ahim menilai, penciptaan atmosfer akademis merupakan salah satu keunggulan Prodi Akuntasi UMY dalam mengembangkan perkuliahan, terutama dalam mata studi Keuangan Syariah dan Sektor Publik.  “Seorang Akuntan yang mampu menjawab tantangan global saat ini dituntut untuk tidak hanya memiliki pengetahuan luas dan keterampilan, namun juga mampu mengembangkan kompetensinya dalam era kompetitif,” jelasnya.

Untuk mewujudkannya, Ahim mengungkapkan pihaknya berupaya mencetak Akuntan Prospektif. Prospektif merupakan kependekan dari Profesional, Responsif, Personal Confident, Kreatif, Trust, dan Inovatif. “Sebagai akuntan, tak hanya pengetahuan dan keahlian saja yang diraih, namun juga membangun karakter yang kompetitif,” terangnya.

Untuk menciptakan atmosfer akademik, dia menjelaskan, seluruh civitas akademika, baik dosen dan mahasiswa harus meningkatkan kemampuan akademisnya. “Untuk itu, perlu ada keterlibatan dan partisipasi aktif dari mahasiswa sehingga jiwa dan kompetensi kompetitif mahasiswa pun dapat dibentuk,” jelasnya.

Beberapa program yang diselenggarakan Prodi Akuntansi seperti Diskusi Ilmiah, Syariah Banking Operation Program, Pelatihan Brevet Pajak, Keuangan Daerah, dan Internal Audit serta Akuntansi Award yang juga salah satu penghargaan bagi mahasiswa Akuntansi yang memiliki prestasi baik di bidang akademis maupun non-akademis di bidang minat, bakat, dan seni.

Sementara itu, Ahim menambahkan, dosen pun juga harus dibekali dengan ilmu yang selalu diperbaharui serta softskill yang meningkat.

“Saat ini dosen diarahkan untuk mendapatkan sertifikasi dan keahlian akademis lain seperti konsultan pajak, akuntan publik dengan memberikan metode pembelajaran, materi, dan silabus yang mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengolah ilmu dan keterampilannya dalam era kompetitif ini,” ujarnya menandaskan. (rfa)(rhs)

Bukan Hanya Nasionalisme Musiman

Bukan Hanya Nasionalisme Musiman

Rabu, 5 Januari 2011 - 15:29 wib

Ilustrasi: ist.
KEJUARAAN Sepakbola Piala AFF memang telah berakhir. Tim Nasional Indonesia pun telah menunaikan tugasnya dengan nyaris sempurna dalam kejuaraan ini. Walaupun lagi-lagi bukan piala kemenangan yang kita dapatkan. Namun, ada suatu fenomena langka yang timbul dari ajang dua tahunan ini, bahkan lebih berharga dari sebuah piala yang diperebutkan dari kejuaraan tersebut. Fenomena yang dimaksud ialah “terlahir kembalinya” rasa nasionalisme seluruh bangsa ini.

Bukan bermaksud untuk memprovokasi seluruh penduduk Indonesia, namun harus diakui bahwa nasionalisme penduduk di negeri ini bisa dikatakan nasionalisme “musiman”. Nasionalisme ini baru terlihat secara massif ketika kalender masehi yang baru saja berganti menginjak pada bulan ke delapan dari dua belas bulan yang tersedia tahun lalu. Namun, Kejuaraan Sepakbola Piala AFF ini menciptakan anomali dalam jadwal nasionalisme musiman bangsa Indonesia.

Bangkitnya nasionalisme rakyat Indonesia tidak terlepas dari kiprah punggawa Tim Nasional Indonesia dalam kejuaraan tersebut. Dukungan masyarakat yang semakin besar seiring dengan prestasi yang dicapai Tim Garuda. Mulai dari tukang sampah sampai pemimpin negara ini, tidak hanti-hentinya untuk memberikan dukungan untuk perjuangan Tim Merah Putih. Dukungan tersebut makin nyata ketika Indonesia mampu melenggang ke partai puncak. Dari dukungan  semua pihak inilah timbul atmosfer nasionalisme yang luar biasa di dalam masyarakat Indonesia.

Sungguh suatu fenomena yang jarang terjadi di negeri ini. Sebuah fenomena di mana semua penduduk di negeri ini meneriakkan hal yang sama, mempunyai tujuan yang sama, dan mempunyai mimpi yang sama. Hal ini benar-benar fenomena yang langka. Jangankan untuk mempunyai satu mimpi, bangsa ini lebih sering berkutat dengan kepentingannya masing-masing. Bangsa ini sering meneriakan segala sesuatu yang dilakukan ialah untuk kepentingan bersama, namun yang terjadi bukannya kebersamaan melainkan sikap saling menjatuhkan.

Apakah sikap yang demikian yang akan terus bangsa ini pertahankan, ketika keikhlasan dan kebusukan menjadi “komoditi” yang sukar dibedakan? Apakah kita akan terus membiarkan perbuatan yang mengagungkan kepentingan golongan daripada kepentingan umum? Tentu saja bangsa ini lelah dengan kehidupan yang demikian, bukan hanya rakyat yang tidak mengerti apa-apa, tetapi juga orang-orang yang selalu mementingkan golongannya dengan dalih untuk kepentingan bersama.

Tidakkah bangsa ini bisa meniru apa yang dilakukan oleh pemain-pemain Tim Nasional Indonesia? Pemain-pemain ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, beda klub dan beda daerah atau bahkan ada pula tidak memiliki darah bangsa Indonesia (pemain naturalisasi). Akan tetapi mereka bisa bersatu untuk saling bahu membahu demi satu tujuan, yaitu mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Sudah bukan saatnya lagi negara ini terus berkutat dengan berbagai macam permasalahan yang tidak tahu kapan akan berakhirnya. Bangsa ini sudah terlalu tua untuk dikatakan bangsa yang masih belajar. Butuh kedewasaan untuk membuat negara ini semakin maju, bukan hanya oleh pemimpin-pemimpinnya, tapi oleh segenap rakyatnya. Rakyat yang mempunyai nasionalisme dan rasa cinta tanah air yang mendalam kepada negaranya.

Alangkah indahnya jika nasionalisme yang akhir-akhir ini tercipta bisa terus dipertahankan dan dilestarikan. Bukan hanya ketika bulan Agustus, bukan juga ketika kejuaraan ini dihelat kembali. Bangsa ini tentu berharap rasa nasionalisme ini akan terus terjaga, rasa cinta tanah air yang mendalam. Sebuah rasa kebersamaan yang nyata, bukan sebuah wacana, dan juga bukan rasa kepemilikan semu sebuah negara oleh golongan tertentu saja. Sebuah naionalisme yang nyata, untuk terciptanya satu kata, satu rasa, satu mimpi, dan satu Indonesia.

Adiluhung Angganar PMahasiswa Jurusan Manajemen
Universitas Gadjah Mada

Jam Belajar Malam Jangan Dipaksa!

Jam Belajar Malam Jangan Dipaksa!

Marieska Harya Virdhani - Okezone
Rabu, 5 Januari 2011 - 16:21 wib

Image: corbis.com
DEPOK– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Depok baru saja meluncurkan dan memutuskan peraturan daerah (perda) pendidikan yang salah satu pasalnya menyebutkan penerapan jam belajar masyarakat. Pukul 18.00–20.00 WIB dinyatakan sebagai jam khusus belajar malam bagi siswa sekolah, sementara orang tua diminta mematikan alat komunikasi dan hiburan seperti ponsel maupun televisi.

Banyak pihak mengkritik perda tersebut yang sebenarnya hanya berupa imbauan karena tidak ada sanksi yang mengikat. Ketiadaan sanksi itu dinilai akan berdampak pada efektifitas pemberlakuan aturan tersebut. ”Memang sengaja tidak dikasih sanksi. Kami ingin bangun kedewasaan masyarakat kita, kesadaran kita. Jangan dibilang wajib, jam ini bukan wajib, tapi untuk membangun kultur masyarakat belajar. Anak–anak jangan dipaksa,” kata Wakil Ketua Komisi D Bidang Pendidikan DPRD Depok Sri Rahayu Purwatiningsih kepada okezone, Rabu (5/1/2011).

Sri menambahkan, perda tersebut sudah digogok matang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) tokoh masyarakat. Pihaknya juga tidak setuju apabila nantinya Dinas Pendidikan menerapkan sanksi. ”Kami hanya bangun kesadran masyarakat, pemberlakuan perda tersebut hanya tinggal tunggu administrasi. Februari mungkin bisa mulai dicoba,” ujarnya.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mendesak Dinas Pendidikan untuk segera melakukan uji coba perda tersebut. Sementara Dinas Pendidikan mengaku akan membuat kajian dan menyosialisasikan perda tersebut di tiap sekolah. (rfa)(rhs)

10 Ribu Pelajar 'Bertarung' di Olympiade Speedy

10 Ribu Pelajar 'Bertarung' di Olympiade Speedy

Sarie 
Rabu, 5 Januari 2011 - 19:14 wib

Suasana Olympiade Speedy (foto: dok. Telkom)
JAKARTA - Telkom mengklaim sekira 10 ribu pelajar di sejumlah wilayah Indonesia bergabung dan mengikuti  komunitas Speedy Cerdas.

"Saat ini ada 10 ribu siswa yang tersebar di wilayah Sumatra, Jakarta, dan Jawa Barat," kata Arif Prabowo, Senior Manager Commerce Telkom DCS Barat dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/1/2011).

Speedy Cerdas merupakan program yang diselenggarakan secara online untuk mempersiapkan anak bangsa dalam menghadapi Ujian Nasional.

Program ini dapat diikuti oleh siswa-siswi tingkat pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) secara online dengan mengakses website www.smartbimbel.com/speedycerdas. Para peserta program perlu mendaftar terlebih dahulu di web tersebut.

"Program Speedy Cerdas ini diharapkan dapat membantu mencerdaskan anak bangsa secara umum dan khususnya membantu persiapan Ujian Nasional," kata Arif.

Sebelum masuk pada tahapan babak grand final, babak kualifikasi telah dilaksanakan secara online dan berakhir pada 5 Desember 2010. Dari tahapan babak kualifikasi tersebut diperoleh 10 besar peserta untuk tiap tingkat pendidikan, sehingga total peserta babak grand final 30 orang.

Babak final diselenggarakan hari ini, Rabu 5 Januari 2011, di Pejaten Village  Mall, Jakarta. (rfa)(rhs)

Rabu, 05 Januari 2011

April, Kemendiknas Gelar Ujian Nasional

April, Kemendiknas Gelar Ujian Nasional

Selasa, 4 Januari 2011 - 16:50 wib

Ilustrasi: ist.
JAKARTA – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah menetapkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) bagi siswa sekolah menengah atas (SMA) 18–21 April, sedangkan bagi sekolah menengah pertama (SMP) pada 25–28 April 2011.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, pemerintah akan menggunakan formula baru untuk menentukan kelulusan, yaitu nilai gabungan antara nilai UN dan nilai sekolah yang meliputi ujian sekolah dan nilai rapor. “Dengan formula baru kita pertimbangkan prestasi di sekolah, (yaitu) ujian sekolah dan rapor digabung dengan UN,” katanya saat memberikan keterangan pers di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Jakarta,kemarin.

Mendiknas menyampaikan, sebelum kelulusan diumumkan, sekolah mengirimkan hasil nilai sekolah untuk digabungkan dengan hasil nilai UN ke Kemendiknas. Selanjutnya, setelah digabungkan dengan formula 60 persen UN ditambah dengan 40 persen nilai sekolah, nilai tersebut dikembalikan lagi ke sekolah. “Sekolah merekap dengan mata pelajaran lain. Kan ada tujuh mata pelajaran lain yang harus lulus. Yang menentukan kelulusan tetap satuan pendidikan,” katanya.

Menurut dia, dari peta nilai akan dilakukan analisis tiap sekolah. Bagi sekolah-sekolah yang nilainya rendah, kata Mendiknas, akan dilakukan intervensi. Mendiknas menyebutkan, Kemendiknas pada 2010 telah melakukan intervensi dengan memberikan insentif kepada 100 kabupaten/kota yang nilai UN-nya rendah. “Kita beri dana Rp1 miliar sebagai stimulus,” ujarnya. Mendiknas tidak memberikan target khusus kelulusan siswa. “Justru yang menjadi target adalah kejujuran dari pelaksanaan UN. Itu yang lebih mahal karena dari angka kelulusan tahun lalu sudah 99 persen,” katanya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas Mansyur Ramly menyampaikan, UN susulan SMA/MA/SMK dilaksanakan pada 25–28 April 2011 dan pengumuman kelulusan oleh satuan pendidikan paling lambat 16 Mei 2011. Sementara UN susulan SMP/MTs pada 3–6 Mei 2011, sedangkan pengumuman UN SMP/MTs oleh satuan pendidikan pada 4 Juni 2011. “UN kompetensi keahlian kejuruan SMK dilaksanakan oleh sekolah paling lambat sebulan sebelum UN dimulai,”katanya. (neneng zubaidah/hojin/sindo) (rfa)(//rhs)

Hasyim Muzadi Buka Pesantren Mahasiswa di Depok

Hasyim Muzadi Buka Pesantren Mahasiswa di Depok

Marieska Harya Virdhani 
Selasa, 4 Januari 2011 - 15:24 wib

Mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi. Foto: Marieska Harya Virdhani-okezone.com
DEPOK - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi segera membuka pendaftaran Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran di Depok pada 9 Januari 2011 mendatang. Sedikitnya akan disaring 40 mahasiswa dengan syarat mutlak hafal 30 juz kitab suci Al Quran dan mendapatkan ijazah SMA.

Tak hanya itu, bahkan Hasyim tengah menyiapkan pembukaan pesantren mahasiswa di Depok yang rencananya akan dibuka pada Oktober-November tahun ini. Dibuka untuk umum, dan menunggu pendaftaran gelombang pertama seleksi masuk SPMB pada Juli -Agustus mendatang.

Hasyim mengatakan khusus untuk pesantren mahasiswa, pihaknya hanya menyaring sekitar 50 mahasiswa. Hasyim menambahkan ilmuwan harus bertanggung jawab kepada masyarakat atas ilmunya baik ilmu normatif maupun teknologi.

"Pesantren itu juga berlaku empat tahun sesuai S1, agar bisa mondok lebih awal, disana nanti akan diberi motivasi agar lebih berprestasi selama kuliah, dan kami akan jadikan mereka agamawan yang tidak hanya mengerti agama," katanya kepada wartawan di Depok, Selasa (04/01/11).

Di dalam pesantren tersebut, kata Hasyim, nantinya juga akan dibuka kursus reguler (short course) yang terdiri dari empat bidang. Yakni Agama, kebangsaan, kewirausahaan, serta informasi dan teknologi.

"Tapi memang kalau pesantren ini agak sulit, karena usia mahasiswa adalah usia sedang bebas, di satu sisi mahasiswa mondok diikuti dua aturan yang bertentangan, kalau mondok diatur norma, tapi di kampus sedang bebas, setelah mondok mereka akan kembali ke kampus," tandasnya.(fmh)

UN, Kebijakan Populer yang Tidak Solutif

UN, Kebijakan Populer yang Tidak Solutif

Selasa, 4 Januari 2011 - 15:49 wib

Ilustrasi: ist.
INDONESIA telah memulai babak baru dalam menetapkan kebijakan pendidikan nasional, khususnya dalam penentuan format kelulusan Ujian Nasional (UN) bagi siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat. Format baru ini telah disampaikan oleh Menteri Pendidikan RI, Muhammad Nuh.

Tahun ini, format yang akan dipakai untuk menentukan kelulusan sesorang ialah menggunakan kalkulasi antara UN dan Ujian Sekolah (US). Rencananya format ini menggunakan proporsi 60 persen nilai UN dan 40 persen nilai US. Meski demikian, belum ada standar nilai yang jelas yang akan digunakan sebagai ambang dasar untuk menyatakan sesorang lulus atau tidak; bisa menggunakan standar tahun kemarin, atau membuat standar baru yang tidak kalah populernya.

Secara sederhana, memang terjadi perubahan format mekanisme penentuan kelulusan seorang siswa. Akan tetapi, jika dilihat dengan seksama, tidak ada perubahan mendasar pada sistem penentuan kelulusan dari tahun ke tahun. Terutama dengan masih dilibatkannya UN sebagai salah satu indikator untuk menentukan kelulusan seorang murid. Selain itu, masih ada penetapan ambang dasar secara kuantitatif yang harus dicapai seseorang untuk dinyatakan lulus. Inilah kebijakan popular yang kerap diambil negara ini, namun tidak pernah menjadi solusi perbaikan pendidikan nasional.

UN merupakan bentuk “pengekangan” dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sejak diberlakukannya UN sebagai mekanisme penentuan kelulusan, sudah tidak terhitung beberapa kali negara ini menentukan format menentukan kelulusan berdasarkan UN. Salah satu indikator pengekangan ini ialah penggunaan empat atau enam mata pelajaran untuk “menghakimi” seseorang layak atau tidak mengantongi predikat lulus dari jenjang pendidikan yang ia tempuh sekarang. Hal ini jelas merupakan sebuah kebijakan yang mengada-ada.

Kebijakan ini mungkin dimaksudkan untuk memberikan standar resmi tentang level pendidikan yang telah dicapai oleh negara ini. Selain itu, standar tersebut juga digunakan untuk membandingkan hasil pendidikan di Indonesia, dengan hasil pendidikan negara lain. Namun, cobalah kita lihat lebih dekat, apakah pendidikan bisa dikatakan lebih maju seiring dengan standar kelulusan (beserta formatnya) yang terus meningkat? Jawabannya mungkin iya jika berlandaskan perhitungan kuantitatif. Namun, apakah pendidikan menjadi lebih maju secara kualitatif sejak diberlakukannya UN sebagai indikator untuk menentukan kelulusan? Jelas jawabannya ialah tidak. Hasil UN sama sekali tidak mencerminkan kualitas sebenarnya yang dimiliki oleh seorang murid.

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki minat dan bakat berbeda-beda. Termasuk pula pada saat mereka menempuh jenjang pendidikan SMP dan SMA. Bahkan, bakat dan minat yang menjadi preferensi mereka tidak terkait dengan mata pelajaran yang menjadi acuan untuk menentukan lulus atau tidaknya mereka. Hal inilah yang sering tidak bisa ditangkap dengan baik oleh para pembuat kebijakan di negeri ini. Para pembuat keputusan atau kebijakan di dunia pendidikan terlalu mengeneralisasi bahwa kualitas dan minat setiap orang ialah sama. Inilah kesalahan fatal yang membuat negara ini salalu jalan di tempat dalam masalah pendidikan. Everything based on standard, standar yang dipaksakan standar.

Memutuskan kelulusan berdasarkan beberapa mata pelajaran yang bersifat suplemen ini jelas bukanlah hal yang bijaksana. Mata pelajaran tersebut dikatakan suplemen karena mata pelajaran ini penting, tapi hanya bersifat tambahan saja. Toh, nantinya ketika seseorang telah terjun pada dunia yang sebenarnya, yang menjadi senjata utama mereka dalam meraih sukses ialah bakat dan minat masing-masing. Jadi, jika kebijakan ini masih dipertahankan, hal ini bukannya akan menjadi solusi pendidikan nasional, akan tetapi nantinya justru akan menjadi kesalahan fatal.

Di masa depan, pemerintah diharapkan jauh lebih bijak dalam mengambil keputusan di dalam dunia pendidikan. Mempertahankan sistem UN dalam upaya mengetahui kualitas pendidikan nasional jelas tidak akan membawa solusi bagi dunia pendidikan di negeri ini. Setiap orang memiliki minat yang berbeda-beda, beda kepala beda juga isinya. Biarkanlah nasib bangsa ini ditentukan oleh minat dan bakat masing masing rakyatnya, bukan oleh standar yang tidak pernah pantas untuk dikatakan sebagai standar. Majulah pendidikan Indonesia, majulah negeriku.

Adiluhung Angganar PMahasiswa Jurusan Manajemen
Universitas Gadjah Mada

Selasa, 04 Januari 2011

IAIN Walisongo Rintis Pendidikan Jarak Jauh

IAIN Walisongo Rintis Pendidikan Jarak Jauh

M Budi Santosa - Okezone
Selasa, 4 Januari 2011 - 14:12 wib


SEMARANG – IAIN Walisongo bekerja sama dengan DBE 2-USAID sedang merintis kelas online dalam Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Letter of Agreement (LoA) IAIN dengan DBE 2-USAID telah ditandatangani oleh Pgs Rektor IAIN Walisongo, Prof Dr Muhibbin M.Ag dengan Chief of Party DBE 2-USAID Michael Calvano, Ph.D pada tanggal 2 Desember 2010. Inti program ini adalah pengembangan Learning Management System (LMS) dan mendukung proses persiapan kelas online.

“Program ini sangat positif untuk pemanfaatan IT sebagai media pembelajaran di dunia maya,” kata Dekan Tarbiyah Dr Suja’i, M.Ag saat membuka Refreshment Pengembangan Kelas Online di ruang sidang Kampus II, Selasa (4/1/2011). Hadir sebagai narasumber dari DBE 2-USAID yaitu, Carwoto, Khusnul Aflah, dan Fitria Hima Mahligai.

Sudah saatnya IAIN Walisongo mengimplementasikan PJJ untuk pembelajaran secara online. Untuk ujicoba, 9 dosen Tarbiyah telah mengikuti kursus pembuatan kelas online selama dua bulan. “Mulai semester depan kita akan coba terapkan di Fakultas Tarbiyah,” tegas Suja’i. Setelah ujicoba di Tarbiyah bisa berjalan lancar, nanti akan diterapkan di Fakultas lainnya.

Dengan kelas online ini mahasiswa akan kuliah dengan media internet. Mahasiswa akan membaca materi, berdiskusi dan mengerjakan tugas lewat kelas yang sudah didesign di website. “Model ini akan mendekatkan mahasiswa dengan teknologi informatika,” tambah Suja’i. Mahasiswa dan dosen juga bisa melakukan teleconference dengan Skype, YM atau Google Chat.

Senada dengan itu, Pembantu Dekan I Dr. H. Ruswan, MA menegaskan mengenai pentingnya PJJ ini. “Perkuliahan online atau PJJ bisa mendorong mahasiswa untuk belajar secara aktif dan mandiri,” kata Ruswan.  Di samping itu PJJ bisa menjadi salah satu cara untuk memenuhi tuntutan jumlah pertemuan perkuliahan yang seringkali terkendala, karena banyaknya kegiatan yang diselenggarakan pada hari kuliah, imbuh Doktor Sejarah Pendidikan Islam alumni UIN Jakarta.(mbs)

Mahasiswa Australia Magang di Indonesia

Mahasiswa Australia Magang di Indonesia

M Budi Santosa - Okezone
Selasa, 4 Januari 2011 - 11:32 wib


JAKARTA - Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty memberi selamat kepada sekelompok mahasiswa dari universitas di Australia dan Selandia Baru yang berpartisipasi dalam program Praktikum Profesi Jurnalisme dan Praktikum Profesi Studi Pembangunan di Jakarta selama enam minggu ke depan.

"Sebagai tetangga dan mitra, penting bagi Australia dan Indonesia untuk mengenal satu sama lain dengan baik," ujar Duta Besar Moriarty pada acara pembukaan program ini di Universitas Atma Jaya, Selasa (4/1/2010).

"Program seperti ini membantu meningkatkan hubungan orang ke orang di kawasan, meningkatkan pemahaman tentang isu-isu kontemporer di Indonesia, dan memberikan kesempatan untuk memperkuat hubungan profesional di sektor media dan pembangunan," kata Dubes Moriarty.

Tiga puluh enam mahasiswa dari universitas di Australia dan Selandia Baru melaksanakan program yang diselenggarakan oleh Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS). Program ini menggabungkan program pelatihan bahasa dan seminar selama dua minggu di Universitas Katolik Atma Jaya diikuti dengan penempatan kerja selama empat minggu, dan program tahun ini diikuti oleh mahasiswa dari Australia, Selandia Baru, Indonesia, Jepang, dan Korea.

Kedua program ini dirancang untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang tidak mengambil jurusan spesialisasi tentang Indonesia atau studi mengenai Asia. Program Praktikum Profesi Jurnalisme ini kini telah memasuki tahun ke-5, sementara program Praktikum Profesi Studi Pembangunan telah menjalankan program percontohannya tahun lalu.

Para mahasiswa ini akan ditempatkan di berbagai media lokal dan internasional dan juga organisasi pembangunan diantaranya majalah mingguan Tempo, Metro TV, Radio Republik Indonesia, The Jakarta Globe, The Jakarta Post, majalah bisnis bulanan Globe Asia, Agence France-Presse, ThomsonReuters, CARE Indonesia, World Wildlife Fund, Wahid Institute, Centre for International Forestry (CIFOR), International Labour Organisation (ILO), dan Indonesia Corruption Watch (ICW).(mbs)

Beasiswa Pascasarjana di Universitas Tokyo

Beasiswa Pascasarjana di Universitas Tokyo

Rifa Nadia Nurfuadah - Metro Pos
Selasa, 4 Januari 2011 - 08:01 wib

Image: corbis.com
JAKARTA - Jika kamu tertarik melanjutkan studi pascasarjana dalam bidang teknik, farmasi, matematika, agrikultur, dan ilmu informasi dan teknologi, beasiswa ini cocok untukmu.

Tapi, syarat utamanya, kamu harus memiliki nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,5 serta berkemauan tinggi mempelajari bahasa dan budaya Jepang. PT Ajinomoto menawarkan beasiswa bagi bidang-bidang studi tersebut bagi kamu yang berusia tidak lebih dari 35 tahun pada 1 April 2012.

Kamu harus melewati berbagai seleksi yang dilakukan oleh Ajinomoto Indonesia, dan memenuhi syarat penguasaan bahasa asing dengan bukti berupa sertifikat Test of English as Foreign Language (TOEFL), Graduate Records Examination (GRE), dan Japanese Language Proficiency Test (JLPT).

Sebagai penerima beasiswa, kamu akan mendapatkan biaya bulanan 150-200 ribu yen tergantung status belajarmu.

Daftar persyaratan lengkap, formulir pendaftaran, dan formulir surat rekomendasi bisa kamu dapatkan dengan mengirimkan surat permintaan secara resmi ke alamat email elektronik rizki_indrawan@ajinomoto.co.id.

Jika semua persyaratan telah kamu penuhi, sertakan dokumen pendukung lainnya berupa:
- tiga lembar foto ukuran paspor yang diambil dalam enam bulan terakhir
- fotokopi transkrip nilai yang dilegalisasi
- fotokopi ijazah yang dilegalisasi
- dua surat rekomendasi dari rektor, dekan, atau pembimbing akademik.

Kirimkan formulir pendaftaran, surat rekomendasi, dan formulir bidang kajian dan program studimu dalam amplop tertutup ke:

PT Ajinomoto Indonesia
Jln. Laksda Yos Sudarso 77-78, Sunter
Jakarta 14350

Jangan lupa cantumkan Tokyo University Application pada sudut kanan atas amplopmu. Kamu bisa hubungi nomor 021-65304455 untuk informasi lebih lengkap. Tenggatnya 1 Maret 2011 ya! (rfa)(rhs)