Powered By Blogger

Minggu, 09 Januari 2011

SUARAMAHASISWA

2011, Perbaikan Sistem dan Manajemen Guru

Rabu, 5 Januari 2011 - 12:05 wib

Ilustrasi guru mengajar (istimewa)
MEMASUKI 2011, tentu serentetan cita-cita dan harapan baru telah membarengi kita untuk kita ukir di sana. Bagi mereka yang cita-cita dan harapannya pada 2010 kemarin belum terwujud, maka pada 2011 inilah harapan dan cita-cita itu harus terwujud. Bagi yang tahun 2010 kemarin, ada hal-hal yang belum terselesaikan, maka di tahun 2011 inilah harus terselesaikan semua hal ihwal-nya.

Hal semacam inilah yang biasanya sering didengung-dengungkan oleh para motivator ketika mengisi training motivasi di awal tahun yang pesertanya adalah para guru. Mereka, para motivator, biasanya juga mengatakan: permasalahan tahun lalu, biarlah berlalu, sekarang saatnya menjemput masa depan dengan penuh kepastian.

Saya sendiri kurang sependapat dengan hal tersebut. Bagimanapun juga, tahun yang lalu, 2010, memiliki kaitan erat dengan tahun baru 2011 ini. Bahkan, secara ekstrim teori Psikoanalisis Sigmund Freud menyebutkan, manusia di masa depannya dipengaruhi oleh masa lima tahun pertamanya. Bisa kita bayangkan, bukan, alangkah jauhnya seandainya orang-orang yang saya contohkan tersebut, saat ini sudah berusia 63 tahun? Itu berarti panjangnya jarak dan waktu (baca: masa) tidaklah memiliki sekat-sekat sehingga menghalang-halangi seseorang untuk mempengaruhinya.

Saya miris mendengar berita di salah satu surat kabar harian nasional pada 2 Januari lalu tentang nasib para guru. Rupanya, di negara kita ini masih saja ada guru yang memiliki nasib yang “terlantar”. Apa? Sekira 1500 guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kawasan Batu Jawa Timur, mengeluhkan uang lauk pauk yang, hingga dua bulan yaitu November dan Desember 2010, belum dicairkan oleh pemerintah. Bisa kita bayangkan, bukan, sekarang ini sudah memasuki tahun 2011, namun nasib mereka pun tak kunjung diperhatikan selama dua bulan terakhir, walaupun hanya permasalahan uang lauk pauk.

Bahkan, menurut pengakuan beberapa guru di berita yang saya baca itu, uang lauk pauk para guru berstatus PNS itu awalnya memang belum dicairkan selama enam bulan, yakni sejak Juli sampai Desember 2010. Baru setelah mereka para guru itu melakukan “protes” kepada pemerintah, uang tersebut dicairkan. Itupun tidak semuanya. Saya menjadi berfikir, apakah jangan-jangan sistem dan manajemen pemerintahan kita itu, baru akan berjalan kalau kita memprotesnya dulu? Semoga tidak demikian.

Memang tidak begitu besar jika kita lihat nominal uang lauk pauk itu. Namun, dapat kita bayangkan, seorang guru juga harus mencukupi kebutuhan keluarganya. Belum lagi anak-anaknya dan kebutuhan lain yang melingkupiya. Besaran uang lauk pauk yang cuma Rp10 ribu itu jika dikalikan dengan masa kerja efektif yang dihitung dalam satu bulan memang hanya 20 hari. Artinya, setiap guru pun seharunya menerima sekira Rp200 ribu per bulan. Sementara, dalam masa waktu dua bulan, uang lauk pauk belum juga diberikan. Itu artinya, jumlah uang yang seharusnya dibayarkan per guru adalah sekira Rp400 ribu.

Kabar di atas terjadi pada mereka para guru yang berstatus PNS. Jika mereka yang masih berstatus PNS saja masih demikian, pantas saja jika guru yang berstatus tidak tetap (GTT) lebih "sengsara" di bawahnya. Sudah mereka berstatus guru tidak tetap, mengajar dengan jam pelajaran yang banyak, dan masih dituntut tanggung jawab besar pula. Sungguh sangat miris, bukan?

Pantas pula jika tahun 2010 kemarin, dianggap sebagai tahun tersuram bagi guru-guru di Indonesia. Setahun kebijakan pemerintah tidak ada yang benar-benar mengangkat pada peningkatan kapasitas dan menyentuh guru. Sehingga, benar apa yang diakui oleh Retno Listyati, guru SMAN 13 Jakarta Utara, yang mengatakan bahwa penyaluran tunjangan profesi guru tahun 2010 adalah yang terburuk sejak ada sertifikasi guru lima tahun silam (Republika 29/12, 2010).

Pantas saja bila, sekira 700 guru tidak tetap atau guru honorer di Bandung, yang tergabung dalam Persatuan Guru Honorer Indonesia (PGHI) mengeluhkan nasibnya kepada pemkab setempat lantaran sudah puluhan tahun tanpa adanya perbaikan kesejahteraan maupun kesempatan untuk diangkat menjadi PNS (Pikiran Rakyat, 28/12 2010).

Tahun 2011, Perbaikan Sistem dan Manajemen
Memasuki tahun baru 2011 ini, tentunya sekian harapan telah terpatri dalam hati para guru bangsa ini. Melalui tulisan ini, saya harap bisa menyadarkan dan memang sengaja saya tujukan untuk pemerintah dan pihak-pihak terkait. Hal yang tidak baik seperti yang dikeluhkan para guru di atas, tidak terulang lagi di tahun 2011 ini nanti. Sistem dan manajemen pemerintah harus segera dibenahi demi kemajuan para guru yang mendidik anak-anak bangsa ini. Jika kita mengharapkan anak-anak bangsa kita cerdas untuk di kemudian harinya, bagaimana mungkin hal itu akan terwujud jika nasib para gurunya saja tidak ter-openi? Selamat Tahun Baru 2011, semoga dunia pendidikan kita lebih baik!

Nur Haris ‘AliAktivis Pers Mahasiswa HIMMAH UII,
Mahasiswa Jurusan Psikologi
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
 Copy Right By Rusliadi (Ininnawa).asianedukasi.blogspot.com

Berperilaku Profesional di Facebook

Berperilaku Profesional di Facebook

Sabtu, 8 Januari 2011 - 13:50 wib

Lastri Marselina - Okezone

Detail Berita
Berperilaku profesional di Facebook. (Foto: Getty Images)
SITUS jejaring sosial telah menjadi bagian hidup semua orang di seluruh dunia. Situs ini telah menjadi bagian hidup semua orang di seluruh dunia. Situs ini tak hanya dimanfaatkan untuk menjaring pertemanan saja.

Tak heran jika kebanyakan orang lebih memilih Facebook, Twitter, dan Foursquare ketimbang menelepon, untuk tetap terhubung dengan teman-teman, teman lama, dan anggota keluarga.

Boleh saja kita mengatakan situs-situs tersebut membuat segalanya menjadi mungkin. Tapi akan sangat penting untuk memanfaatkan situs-situs tersebut secara profesional, untuk mengurangi dampak-dampak negatif. Berikut beberapa cara mudah yang dilansir eHow.

1. Pastikan untuk hati-hati memilih foto profil dan info diri sebelum ditampilkan. Sebaiknya tampilkan informasi yang positif, dan foto profil yang pantas. Hindari penggunaan kata-kata yang menjurus SARA.

Seringkali, perusahaan memeriksa calon karyawan mereka menggunakan Facebook, maka akan sangat merugikan jika kita gagal diterima akibat kata-kata dan foto yang tidak pantas di akun Facebook pribadi.

2. Sebelum menampilkan status, sebaiknya gunakan kalimat yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari, acara khusus maupun tujuan liburan bulan depan yang akan sesuai untuk dibaca semua friends pada akun pribadi Anda. Hindari menampilkan status yang akan memalukan orang lain maupun diri sendiri.

3. Kirimkan post bersahabat ke teman lama maupun keluarga, tapi hindari mengungkapkan sesuatu yang pribadi di wall-nya, ketika semua orang memiliki akses untuk melihatnya. Untuk pembicaraan pribadi, sebaiknya gunakan pesan pribadi.

4. Lebih baik memasukkan anggota keluarga atau teman yang familiar ketimbang orang yang sama sekali asing.

Menjaga jumlah friends seminimum mungkin membantu Anda untuk menghindari penerobosan pribadi dan penyebaran virus. Sebaiknya atur akun dengan proteksi maksimal.
(nsa)
 Copy Right By Rusliadi (Ininnawa)

Rahasia Karier Lancar dengan Kata-Kata Bijak

Rahasia Karier Lancar dengan Kata-Kata Bijak

Sabtu, 8 Januari 2011 - 16:34 wib
Detail Berita
Karir lancar dengan kata-kata bijak. (Foto: Corbis)
DALAM urusan kerja, cara bicara bisa menentukan laju tidaknya karier Anda. Walau bukan merupakan faktor utama, namun pengolahan kata-kata dengan bijak akan memberikan nilai lebih bagi diri Anda.

Hindari terlalu sering salah-salah kata yang menyebabkan bertambah buruknya suasana kerja, karena salah-salah Anda bisa dijuluki Mr/Mrs Slip of the Tounge! Jadi pelajari ilmu "membungkus" kata-kata ini, sehingga Anda selalu bisa menghembuskan suasana yang kondusif bagi iklim kerja di lingkungan Anda.

Berikut ini rahasianya yang bisa Anda simak!

1. Sampaikan berita buruk seindah mungkin

Ketika berita buruk tiba, jantung dan kepala siap meledak. Tapi jangan dituruti. Apalagi sampai berlari-lari panik menerobos kamar kerja bos. Cobalah cara ini: tenangkan diri, tarik napas dalam-dalam, dan mulailah berpikir kalimat apa yang paling sesuai disampaikan untuk kabar tersebut.

Hindari penggunaan kata "problem", "masalah", dan sejenisnya. Anda bisa mengatakan dengan tenang, misalnya, "Kita baru saja menabrak dinding dengan kecepatan tinggi..!", bandingkan dengan "Gawat, bahaya, bu! Proyek kita yang hampir satu miliar ternyata gagal total!."

"Menghindari kata-kata explosif bisa mengurangi kepanikan," demikian menurut Mel Silberman, penulis People Smart: Developing Your Interpersonal Intelegence.

2. Siap jadi bumper

Bayangkan bila seseorang mengatakan siap mengurusi masalah yang Anda hadapi. Sungguh melegakan, bukan?

Itulah yang akan dirasakan oleh atasn setiap mendengar anak buahnya mengajukan diri menyelesaikan masalah genting.

Kalimat, "Biar saya yang menangani masalah ini, pak", seakan-akan mengangkat beban yang memberati pundak atasan Anda. Reaksinya berbeda jika atasan mengajukan masalah, namun Anda justru panik.

3. Jadi pemain kelompok

Seorang rekan kerja dalam kelompok tiba-tiba mengajukan ide yang sangat cemerlang. Kesal boleh, tapi cukup dalam hati. Langkah yang paling jitu adalah mengambil keuntungan dari kehebatan teman Anda tersebut.

Caranya, saat bersama teman-teman lain sampaikan kehebatannya. Pujian ini akan membuat orang lain dan juga atasan Anda -memandang Anda sebagai seorang yang sportif, misalnya "Ide Saudara Nata ini saya kira bagus sekali".

4. Berbeda pendapat

Beda pendapat dengan rekan kerja atau atasan, sangat mungkin terjadi. Namun jangan sampai hal tersebut menjadikan hubungan Anda dengan rekan kerja tegang. Apabila Anda yakin bahwa pendapat Anda benar dan dilengkapi dengan data-data akurat dan bukti yang kuat, maka Anda tidak perlu berdebat kusir dengan rekan kerja.

Cukup sampaikan, "Menurut pengalaman dan sejauh pengetahuan saya, hal tersebut sudah sesuai perhitungan. Bahwa ada yang beranggapan berbeda, hal itu sangat mungkin terjadi dan kemungkinan hal tersebut merupakan pengecualian yang tentu saja patut menjadi masukan kita semua."

5. Minta bantuan lewat rayuan

Kalau Anda menghadapi pekerjaan yang sulit dan membutuhkan pertolongan, coba tengok rekan kerja yang memiliki kemampuan untuk melakukan tugas ini. Langkah berikutnya, rayu dia untuk membantu Anda.

Caranya? Puji dia. Katakan padanya bahwa hanya dia yang dapat membantu Anda menyelesaikan tugas-tugas penting. Karena hanya dia yang memiliki pengetahuan yang tepat. Sampaikan dengan manis sambil menyelipkan pujian, misalnya "Aduh ide-idemu pasti sangat diperlukan untuk proyek ini!".

6. Menjawab dengan penawaran

Atasan meminta keterangan lengkap tentang lawan bisnis perusahaan Anda saat ini. Sialnya, Anda tidak tahu menahu soal ini. Kuncinya, jangan sampai terlihat bodoh. Kalau bos datang dengan pertanyaan sulit, tunda dengan cara cantik seperti, "Pak bagaimana jika saya kirim memo yang lebih detik jam tuga sore nanti".

7. Stop gangguan dari rekan kerja (laki-laki)

Bila rekan kerja pria Anda memuji penampilan Anda atau bicara soal seks yang membuat perasaan Anda tidak nyaman, segera gunakan kalimat "Wah, rasanya obrolan seperti ini harus cepat direm," untuk menghentikannya.

8. Meringankan beban

Atasan Anda memberikan pekerjaan baru, dan Anda sulit menyelesaikannya dalam waktu singkat. Untuk itu segera sampaikan dan diskusikan pada atasan bahwa tengah menangani prioritas pekerjaan yang harus diselesaikan terlebuih dahulu, "Memang semua tugas ini penting pak, namun saya akan membuat skala prioritas kerja."

9. Memesona bos besar

Di acara pesta kantor, tiba-tiba Anda sadar bahwa di sebelah Anda telah duduk Boss of The Boss. Lari atau menghindar tentu bukan pilihan yang bijaksana. Bicaralah dengan bos Anda misalnya tentang filosofi perusahaan, tren industri, atau mungkin ancaman kompetitor atau, "Saya tertarik dengan keputusan terakhir bapak, apa dasar pemikiran bapak ketika itu?".

Pembicaraan berat sekaligus ringan ini akan memberi skor tambahan sebab Anda berani mengangkat topik pembicaraan yang disukai, dan menjadi tanggung jawab.

10. Bersalah? Silakan mengaku!

Namanya juga manusia, maka sesekali membuat kesalahan agak bodoh (atau teramat bodoh) adalah wajar. Tetapi sekarang bagaimana caranya agar Anda tidak menjadi 'pesakitan yang disalahkan oleh seluruh dunia'.

Pertama, akuilah kesalahan itu. Hal ini akan menunjukkan kematangan Anda, kemudian jangan coba-coba melemparkannya kepada orang lain. Kalau hal tersebut sampai dilakukan, maka orang akan mengecap Anda sebagai seorang pengecut.

11. Silakan kritik saya

Feedback adalah asset yang berharga. Kita justru patut merasa senang jika masih ada yang memberi Anda kritik atau saran. Karena seseorang yang menutup diri akan kritik sebenarnya telah menutup jalan perkembangan dirinya.

Tapi Anda tentunya tak akan menipu perasaan. Ada yang tertusuk dalam hati begitu ada orang yang mengkritik hasil karya dan jerih payah Anda, dan tentunya sakit rasanya. Tenang! Jangan perlihatkan kemarahan dan wajah tidak senang Anda saat menerima kritikan.

"Saya sangat menghargai kritik Anda. Dan saya akan memikirkan saran Anda." Kalimat tersebut membuat Anda tampak profesional, dan patut dihargai. Selain itu, mampu memberikan kesan kuat, tangguh, dan tahan banting. Atasan Anda ingin melihat bawahannya mampu mendengar kritik tanpa menunjukkan kemarahan. Tepatnya mampu bersikap dewasa.

So, coba praktikkan dan karier Anda pun akan lancar-lancar saja. (Berbagai sumber)
Copy Right By Rusliadi (Ininnawa)

10 Ribu Pelajar 'Bertarung' di Olympiade Speedy

10 Ribu Pelajar 'Bertarung' di Olympiade Speedy

Sarie - Okezone
Rabu, 5 Januari 2011 - 19:14 wib

Suasana Olympiade Speedy (foto: dok. Telkom)
JAKARTA - Telkom mengklaim sekira 10 ribu pelajar di sejumlah wilayah Indonesia bergabung dan mengikuti  komunitas Speedy Cerdas.

"Saat ini ada 10 ribu siswa yang tersebar di wilayah Sumatra, Jakarta, dan Jawa Barat," kata Arif Prabowo, Senior Manager Commerce Telkom DCS Barat dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/1/2011).

Speedy Cerdas merupakan program yang diselenggarakan secara online untuk mempersiapkan anak bangsa dalam menghadapi Ujian Nasional.

Program ini dapat diikuti oleh siswa-siswi tingkat pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) secara online dengan mengakses website www.smartbimbel.com/speedycerdas. Para peserta program perlu mendaftar terlebih dahulu di web tersebut.

"Program Speedy Cerdas ini diharapkan dapat membantu mencerdaskan anak bangsa secara umum dan khususnya membantu persiapan Ujian Nasional," kata Arif.

Sebelum masuk pada tahapan babak grand final, babak kualifikasi telah dilaksanakan secara online dan berakhir pada 5 Desember 2010. Dari tahapan babak kualifikasi tersebut diperoleh 10 besar peserta untuk tiap tingkat pendidikan, sehingga total peserta babak grand final 30 orang.

Babak final diselenggarakan hari ini, Rabu 5 Januari 2011, di Pejaten Village  Mall, Jakarta. (rfa)(rhs)
Copy Right By.Rusliadi (Ininnawa

Sabtu, 08 Januari 2011

Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC)

Kampus Pilihan

Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC)


PADA 4 Juli 2010 lalu Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) mengadakan seminar dan pelatihan entrepreneurship untuk tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kantor Konjen RI di Hong Kong.
Informasi acara tersebut disebarluaskan melalui ragam komunitas TKI di Hong Kong yang dapat dikatakan semua adalah perempuan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga (domestic helper). Semula, diperkirakan hanya 120 orang yang akan hadir mengisi ruangan berkapasitas 180 orang. Namun, ternyata minat belajar entrepreneurship tenaga kerja wanita (TKW) begitu besar sehingga yang datang begitu banyak, hingga 230 orang.
Tak ada kursi, tikar pun dipakai untuk alas duduk peserta pelatihan. Sebelum pelatihan dilakukan, panitia memberikan kuesioner kepada seluruh peserta. Salah satu pertanyaan dalam kuesioner tersebut adalah apa rencana mereka sekembali ke Indonesia. Ternyata, sebanyak 219 TKW atau 95 persen dari peserta pelatihan ingin berwirausaha sekembali dari Hong Kong. Memang masuk akal bila mereka memiliki cita-cita berwirausaha atau menjadi entrepreneur.
Setidaknya ada tiga alasan, pertama, mereka memiliki sejumlah dana yang cukup besar dari hasil tabungan selama bekerja di Hong Kong. Kedua, mereka akan kesulitan masuk pasar tenaga kerja di Indonesia bagi para mantan TKW. Ini mengingat mereka telah mendapatkan gaji setara Rp4 juta selama di Hong Kong. Ketiga, mereka ingin berkumpul dengan keluarga.
Seorang TKW asal Indramayu yang kami temui di Victoria Park berkata, ”Saya akan kembali ke Indonesia, ingin buka kafe, untuk merebut kembali tahun-tahun saya yang hilang bersama anak-anak saya.” Itu alasannya, dan itu juga suara hati seorang ibu muda yang sudah sepuluh tahun bekerja di luar negeri. Apakah mereka siap untuk jadi entrepreneur? Inilah yang menjadi keprihatinan dan seharusnya juga menjadi kepedulian kita semua.
Banyak orang berpikir bahwa kunci utama menjadi seorang entrepreneur adalah modal. Sehingga, asal ada modalnya maka usaha bisnis akan tercipta. Ini keliru. Karena menciptakan dan mengelola sebuah usaha bisnis memerlukan pola pikir, perilaku, dan kecakapan tertentu. Pola pikir, perilaku, dan kecakapan tersebut timbul dan tumbuh melalui proses tiga L (lahir, lingkungan, dan latihan).
L yang pertama atau lahir adalah faktor di keluarga mana seseorang lahir. Dr. Ir. Ciputra pernah mengatakan, ”Saya lahir dari keluarga entrepreneur, begitu brojol sudah lihat barang dagangan, belajar merangkak di antara barang dagangan, belajar jalan sambil berpegang barang dagangan, percakapan dalam keluarga adalah percakapan tentang berdagang, sudah mulai besar membantu berdagang lalu bergaul di antara para pedagang, tidak heran bila jiwa seorang pedagang sudah terbentuk sejak dini.”
L kedua adalah lingkungan, seseorang yang bukan lahir dari keluarga entrepreneur namun berkawan, bersekolah, atau bekerja dalam lingkungan yang entrepreneurial dapat terinspirasi dan terasah pola pikir, perilaku, dan kecakapan entrepreneurship-nya, tidak heran bila kemudian bisa jadi entrepreneur. Sebagai contoh adalah para profesional yang bekerja di perusahaan-perusahaan bisnis kemudian pindah profesi dari pegawai entrepreneur menjadi entrepreneur karena telah mengalami proses pembentukan di tempat kerja.
L yang ketiga adalah latihan. Faktor latihan atau pendidikan entrepreneurship makin penting khususnya untuk mereka yang tidak memiliki dua L yang terdahulu (lahir dan lingkungan). Legitimasi bahwa entrepreneurship dapat diajarkan sudah bukan merupakan pertanyaan lagi. Peter Drucker (1985), seorang pakar bisnis dan manajemen kelas dunia, mengatakan dengan tegas, ”The entrepreneurial mystique? Its not magic, its not mysterious, and is has nothing to do with the genes. Its a discipline. And, like any discipline, it can be learned.
Demikian juga berbagai pendapat ahli dan hasil riset menunjukkan bahwa kewirausahaan dapat dipelajari. Ini adalah contoh-contohnya, 1) Most of the empirical studies surveyed indicated that entrepreneurship can be taught, or at least encouraged, by entrepreneurship education (Gorman, Hanlon,& King,1997,p.63). 2) The question of whether entrepreneurship can be taught is obsolete (Charney & Libecap, 2000).
Namun, bukan sembarang pelatihan. Karena, pelatihan entrepreneurship harus memiliki metode belajar yang tepat atau bukan sekadar mengajarkan pengetahuan entrepreneurship. Strategi pembelajaran yang dipakai harus dapat menginspirasi dan membangun pola pikir, perilaku, dan kecakapan entrepreneurship dan tentu saja untuk mencapai standar itu pelatihan satu hari pasti tidak cukup.
Kenyataan di atas menyisakan kepada kita semua sebuah pekerjaan rumah yang besar sekali. Jumlah total TKI di seluruh dunia diperkirakan sudah mencapai enam juta orang. Dari jumlah tersebut tentu banyak sekali yang sekembali ke Indonesia ingin jadi entrepreneur namun tanpa pola pikir, perilaku, dan kecakapan yang memadai. Jangan-jangan mereka hanya akan menghabiskan tabungan yang sudah dikumpulkan dengan susah payah dan dengan social cost yang sangat tinggi.
Ketika kami dalam perjalanan ke Bandara Hong Kong untuk kembali ke Jakarta, sopir kendaraan yang kami tumpangi mengatakan ada seorang TKW yang pulang kampung lalu membuka minimarket dan gagal sehingga akhirnya kembali ke Hong Kong lagi jadi TKW. Kalau yang seperti ini terjadi terhadap banyak TKW kita, maka akan sangat ironis bukan? Oleh karena itu, semoga pelatihan entrepreneurship untuk TKI sebelum berangkat ke negara tujuan, selama mereka bekerja, dan sesudah mereka kembali dari negara tempat bekerja mendapatkan prioritas dari pemerintah kita.(*)

Antonius Tanan
Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC)

CIVITAS AKADEMIK Cangkang Telur Ternyata Bisa Jadi Pakan Ternak!


CIVITAS AKADEMIK

Cangkang Telur Ternyata Bisa Jadi Pakan Ternak!

Cuk Sahana - Okezone
Rabu, 3 November 2010 - 13:29 wib

Image : Corbis.com
YOGYAKARTA - Selama ini potensi limbah kerabang (cangkang) telur di Indonesia cukup besar. Sayangnya, potensi tersebut hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal khususnya sebagai pakan unggas dan hanya dimanfaatkan untuk hiasan kerajinan.

Hal ini disebabkan karena sejauh ini limbah tersebut mudah terkontaminasi mikrobia dan kecernaan mineral kalsiumnya yang masih rendah. Disamping itu, keberadaanya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena sulit didegradasi oleh mikrobia tanah.

Terkait dengan limbah kerabang telur tersebut  Prof. Dr. Ir. Tri Yuwanta, SU, DEA, yang juga Dekan Fakultas Peternakan UGM, telah berhasil mengembangkan metode prosesing limbah kerabang telur menjadi pakan sumber mineral ayam petelur.

Metodenya yang dipergunakan dalam prosesing limbah kerabang telur tersebut, diawali dengan perendaman kerabang telur dengan air panas 80ยบ celcius selama 15-30 menit, dibersihkan, lalu dikeringkan. Kemudian direndam lagi menggunakan asam fosfat dengan beberapa konsentrasi, setelah itu dibuat tepung. Setelah jadi tepung, kemudian dicampur dengan bahan baku pakan lain seperti jagung giling, bekatul, bungkil kedelai dan lain-lain.

“Metode prosesing limbah kerabang telur menjadi pakan sumber mineral ayam petelur ini sudah mulai dikembangkan,” papar Ahmad Rois Mansur, mahasiswa Fakultas Peternakan, Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan 2007, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, Rabu (3/10/2010).

Pemanfaatan limbah kerabang telur ini imbuh Mansur merupakan salah satu upaya untuk memperkaya nutrien mineral pakan untuk ayam petelur. Kerabang telur menyusun sekitar 10 persen dari total berat telur. Kerabang telur sebagian besar (98,4 persen) terdiri dari bahan kering dan hanya 1,6 persen air. Kerabang telur mengandung 95,1 persen mineral dan 3,3 persen protein.

“Di antara mineral tersebut yang paling banyak adalah kalsium karbonat (98,43 persen), magnesium karbonat (0,84 persen) dan kalsium fosfat sebanyak 0,75 persen,” katanya.

Sebagai gambaran, produksi telur ayam ras nasional pada 2009 sebesar 1.071.398 ton. Jika rata-rata berat telurnya 60 gram maka kerabang telur yang dihasilkan dalam setahun adalah 178.566,33 ton. Berat itu setara dengan 175.762,84 ton kalsium karbonat, 1.499,96 ton magnesium karbonat dan 1.339,25 ton kalsium fosfat.

Dia menegaskan, biaya produksi tepung kerabang telur (untuk 100 kg) diperkirakan sebesar Rp89.000. Jadi, harga pembuatan tepung kerabang telur per kgnya adalah Rp890 sedangkan harga sumber mineral yang juga sering digunakan yaitu tepung kerang berharga Rp2.500 per kg (selisih Rp 1.610).

“Rata-rata konsumsi pakan ayam petelur per hari adalah 100 gram per ekor  per hari dengan penggunaan tepung kerabang telur per harinya 3 gram (3 persen dari total pakan), maka biaya produksi per hari yang dapat dihemat adalah sebesar Rp48.300,00 per hari pada populasi ayam 10 ribu ekor atau Rp1,449 juta per bulan,” kata Mansur yang bersama timnya menjadi juara II dalam 2nd SATU Student Business Plan Competition di National Cheng Kung University Taiwan belum lama ini.

Lebih jauh Mansur menguraikan, ayam yang diberi kerabang telur sebagai sumber mineral mampu mencapai produksi 76,2 persen sedangkan dengan suplemen mineral lain sebesar 71,1 persen (selisih 5,1 persen). Sehingga pada peternakan ayam petelur yang memiliki populasi sebesar 10.000 ekor akan menghasilkan telur 510 butir lebih banyak (setara dengan 30,6 kg).

Jika harga 1 kg telur Rp12 ribu maka keuntungan yang bisa diperoleh adalah Rp367,2 ribu per hari atau Rp11,01 juta per bulan. Asumsi rata-rata berat telurnya 60 gram. Sehingga keuntungan total per bulan yang bisa diperoleh baik dari efisiensi pembuatan pakan maupun penjualan telur adalah Rp12,465 juta.

“Semakin besar skala usaha atau semakin banyak populasi ayam maka keuntungan yang diperoleh juga akan semakin banyak. Selain keuntungan finansial yang bisa diperoleh, suplementasi mineral menggunakan tepung kerabang telur juga dapat mendukung program ramah lingkungan,” pungkasnya.(rhs)

Eddy Heraldy, Dosen UNS yang Raih Doktor Kimia

Eddy Heraldy, Dosen UNS yang Raih Doktor Kimia

Cuk Sahana - Okezone
Minggu, 10 Oktober 2010 - 10:48 wib


YOGYAKARTA - Berawal dari pengalamannya bekerja di industri besar serta keprihatinannya pada limbah yang dihasilkan, Eddy Heraldy melakukan penelitian doktornya di Jurusan Kimia FMIPA UGM.

Eddy Heraldy yang masih menjabat dosen di FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut mencermati residu air limbah dari unit desalinasi air laut untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

“Banyak limbah mencemari lingkungan. Ironisnya, limbah itu muncul karena kinerja alat industri yang belum efisien,” papar Edy ketika mempertahankan disertasinya yang berjudul Sintesis Senyawa Hydrotalcite-Like Berbahan Dasar Magnesium Dari Brine Water dan Uji Kemampuannya Sebagai Sorben Spesies Organik Anionik, pada ujian terbuka di FMIPA UGM, Sabtu (9/10/2010) kemarin.

Dia menambahkan dalam operasi PLTU diperlukan air bersih dalam kapasitas besar melalui proses desalinasi air laut itu. Persoalan muncul karena dari proses desalinasi itu dihasilkan brine water berupa residu 60 persen air laut yang tidak termanfaatkan. Brine water itu  mengandung logam-logam jenis alkali dan tanah dalam kadar tinggi.

Dicontohkan PLTU Tanjung Balai B Jepara Jawa Tengah membangkitkan listrik dengan daya total terpasang 1.320 MW perlu air laut 320 meterkubik per jam. Namun, residu brine water yang dihasilkan mencapai 200 meterkubik per jam. Dengan kecenderungan Indonesia melakukan pembangunan PLTU hingga kapasitas 10.000 MW, potensi konsentrat alkali dan alkali tanah yang dikirim ke laut makin besar.

“Ini artinya semakin banyak PLTU di Indonesia yang umumnya berada dekat pantai, makin banyak brine water yang tidak termanfaatkan, padahal biaya untuk proses desalinasi itu sangat mahal,” papar pria kelahiran Jakarta,  5 Maret 1964 itu.

Melalui riset doktornya dengan supervisor Prof Dr Triyono, Prof Dr Sri Juari, dan Prof Dr Karna Wijaya dari FMIPA Kimia UGM telah fokus mencari pemanffaatan brine water hasil desalinasi itu. Melalui risetnya, dia berhasil mensintesa suatu senyawa mirip hidrotalsit (hydrotalcite-like) yang diperoleh dari magnesium, salah satu logam alkali tanah utama pada brine water. Senyawa hidrotalsit ini dapat dipakai sebagai penyerap (sorben), prekursor katalis, katalis dan eksipien industri farmasi.

“Jadi dalam residu brine water terdapat bahan penyerap limbah. Bila magnesium dari brine water diambil dan ditambah dengan senyawa aluminium, maka ada potensi solusi bagi usaha penanggulangan limbah industri melalui produksi absorben dari bahan magnesium residu PLTU,” kata Edy.

Melalui ujian promosinya ini Edy Heraldy membuktikan bahwa bahan hidrotalsit dapat disintesa dari bahan magnesium yang diperoleh dari residu brine water PLTU. Ia berkeyakinan bahwa absorben berbahan hidrotalsit, eksipien farmasi dan katalis reaksi kimia dapat dibuat melalui home industri di sekitar PLTU. Dengan demikian, potensi ekonomi masyarakat di sekitar PLTU dapat diberdayakan, seperti halnya membuat garam yang telah dikenal masyarakat.

Pada ujian yang juga dihadiri oleh Dekan serta Pembantu Dekan FMIPA UNS Surakarta tersebut Edy berhasil lulus dengan predikat sangat memuaskan.(mbs)

UMY Press Dukung Peningkatan Karya Ilmiah

UMY Press Dukung Peningkatan Karya Ilmiah

Cuk Sahana - Okezone
Kamis, 6 Januari 2011 - 12:09 wib

Image: corbis.com
YOGYAKARTA- Sebagai upaya mengkaji lebih dalam dan menginisiasi proses revitalisasi untuk mendukung peningkatan jumlah dan kualitas karya serta jurnal ilmiah, termasuk buku publikasi dalam civitas akademika, eksistensi Muhammadiyah University Press (UMY Press) perlu ditingkatkan kembali keberadaannya.

Demikian disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan, Penelitian, dan Masyarakat (LP3M) UMY, Mukti Fajar ND dalam Sarasehan UMY Press, di Kampus Terpadu UMY, kemarin.

Menurutnya, hampir seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta dalam dan luar negeri tidak henti mengembangkan sekaligus menyebarkan beragam ide, gagasan, dan teori maupun metodologi baru, serta hasil riset mutakhir dalam pengembangan sains, teknologi, seni dan ilmu pengetahuan, salah satunya melalui buku atau karya ilmiah.

Meskipun kemajuan informasi dan teknologi, terutama dalam dunia pengetahuan dan penyebaran nalar intelektualisme kaum akademis perguruan tinggi dengan mudah dapat diakses melalui e-book atau e-library, Mukti mengakui, keberadaan buku dan karya ilmiah masih perlu untuk digagas, diterbitkan, dan disebarluaskan. “Kemunculan karya ilmiah yang lahir dari para akedemisi tak dapat dibendung apalagi dibatasi kreativitasnya. Oleh karenanya, harapan, peluang, sekaligus potensi itulah yang perlu difasilitasi dan diorbitkan oleh LP3M UMY secara terencana, penuh komitmen, dan ketekunan,” ujar Mukti.

Mukti menambahkan, kendati pasar buku kadang menggeliat, lesu, dan tak jarang jenuh dengan tema buku fiksi dan non fiksi yang cenderung seragam dan monoton, namun karya dan kreativitas penulis dari kaum akademisi perguruan tinggi tetap akan terus bermunculan dalam era global ini. “LP3M UMY yakin akan lahir generasi baru yang kreatif, cerdas, dan mempunyai pergaulan lintas batas, pengetahuan, serta horizon yang luas dari perguruan tinggi. Hal inilah yang harus disemaikan sejak dini demi mencerahkan kehidupan bangsa, negara, dan agama melalui jendela ilmu pengetahuan mengingat buku merupakan kunci peradaban baru,” imbuhnya.

Direktur Gadjah Mada University Press, Muhammad Munandar, yang juga hadir dalam sarasehan tersebut mengungkapkan, university press tidak dapat memposisikan diri sebagai perusahaan yang semata-mata mencari laba sebagaimana halnya perusahaan penerbit swasta pada umumnya. “Sebuah university press harus bersedia pula menerbitkan naskah buku yang sangat penting bagi pengembangan ilmu, meskipun tidak profitable,” ujarnya.

Dia memaparkan, Muhammadiyah University Press mempunyai keunggulan karena mempunyai sekian banyak perguruan tinggi di hampir semua kota besar di Indonesia yang pastinya bisa menjadi sumber naskah dan sekaligus menjadi pasar potensial yang tidak pernah kering.  (rfa)(rhs)

Kampus Perlu Tingkatkan Servis

Kampus Perlu Tingkatkan Servis

Kamis, 6 Januari 2011 - 14:16 wib

Image: corbis.com
SEMARANG – Perguruan tinggi (PT) perlu meningkatkan pelayanan di kampusnya untuk menggaet mahasiswa asing.

Kualitas pelayanan mulai dari promosi, pendaftaran, hingga ke proses belajar mengajar, menjadi sangat penting untuk menarik minat mahasiswa asing belajar di perguruan tinggi tertentu. Pembantu Rektor I Undip Prof. Riwanto mengatakan, untuk menciptakan International Office yang standar, langkah yang mesti dilakukan adalah memerhatikan apa yang menjadi kebutuhan mahasiswa asing. Mulai dari imigrasi, program studi, perekrutan, transportasi, akomodasi, bahkan makanan dan kebutuhan kesehariannya, serta masih ada beberapa lainnya.

“Menjalin sebuah kerja sama internasional, kita juga mesti jeli. Keuntungan apa yang dapat kita peroleh? Jangan sampai kita hanya dibuat sebagai pengumpul data, tetapi kita mesti tahu akan dibawa ke mana kerja sama yang kita buat,” katanya dalam workshop dengan tema “Improving Student Services and Strengthening International Collaboration through Empowering International Office of Diponegoro University“ di Hotel Seratta, kemarin.

Acara yang digelar oleh Internasional Office Undip Semarang ini diikuti oleh pimpinan Program Studi dan dosen yang ada di lingkungan Undip. Pembantu Rektor Undip IV Muhammad Nur menyampaikan, sebuah universitas dengan kelas dunia memiliki empat kategori, yakni Teaching University, Education University, Research University, dan Entrepreneurial University.
“Saat ini Undip masih dalam tataran Research University. Oleh karena itu, International Office menjadi suatu sarana yang tepat untuk dapat menuju pada tahap ke empat, yaitu Entrepreneurial University,” papar Nur.

Rektor Undip Prof. Soedharto P Hadi menambahkan, workshop ini merupakan media sosialisasi untuk kalangan internal Undip. Kegiatan tersebut juga sekaligus menjadi forum untuk merencanakan strategi memperkuat kerja sama international. (susilo himawan/sindo) (rfa) (//rhs)

SUARAMAHASISWA Visualisasi Mimpi, Menggapai Prestasi

SUARAMAHASISWA

Visualisasi Mimpi, Menggapai Prestasi

Kamis, 6 Januari 2011 - 15:16 wib

Foto: dok. pribadi
TAHUN 2011 juga mengawali kembalinya siswa ke bangku sekolah. Kembali ke bangku sekolah dapat diartikan sebagai kembalinya rutinitas para siswa kepada kegiatan belajar, mengobrol, bersenda gurau, meneliti, mengikuti lomba, dan lainnya dengan porsi masing-masing sesuai karakter siswa. Bagaimanapun juga, kemajuan bangsa ini dapat direfleksikan pada sudah sejauh mana siswa-siswi yang ada di Indonesia mau berprestasi. Banyak sekali keberhasilan yang dicapai oleh seseorang berawal dari mimpi-mimpi yang besar lalu diwujudkan dalam langkah yang nyata, dimulai dari hal kecil hingga terakumulasi menjadi langkah yang besar dan dicapailah suatu prestasi yang spektakuler.

Kita dapat mengambil contoh dari cerita Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata berdasarkan pengalamannya sendiri. Dari hal itu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa prestasi yang besar berawal dari mimpi dan impian yang besar pula. Banyak contoh lain yang menunjukkan keberhasilan tokoh-tokoh besar berawal dari mimpi dan impian yang besar, antara lain Bill Gates, Barack Obama, Muhammad Yunus, dan tokoh dari dalam negeri sendiri seperti Soekarno. Mereka adalah tokoh-tokoh besar dengan visi yang besar pula.

Sekolah merupakan sarana untuk menggapai visi besar tersebut. Karena itu, kembalinya ke sekolah sudah semestinya dijadikan momentum untuk merapikan kembali mimpi dan visi besar yang kita miliki untuk menggapai prestasi yang sebesar-besarnya dan membanggakan orang tua. Kembali ke sekolah juga sudah semestinya dijadikan momentum evaluasi atas apa yang telah dilakukan sebelumnya di sekolah, lalu menetapkan langkah-langkah untuk menghilangkan semua keburukan yang terjadi sebelumnya serta langkah-langkah perbaikan untuk mengubah keadaan 180 derajat hingga menjadi pribadi yang spektakuler.

Sepertinya perlu ditanamkan motivasi kepada seluruh siswa di Indonesia, bahwa berawal dari keyakinan dan motivasi yang kuatlah sederet prestasi dapat digapai. Perlu diajarkan kepada para siswa bagaimana menyusun impian-impian mereka dalam action plan yang nyata yang disusun sebagai rencana hidup dan target jangka pendek serta jangka panjang. Action plan tersebut disusun dalam kurun waktu bulanan, tahunan, lima tahunan, 10 tahunan, bahkan hingga ajal menjemput.

Kembali ke sekolah merupakan momentum yang tepat untuk mengubah pribadi siswa menjadi pribadi yang luar biasa berawal dari penyusunan mimpi serta impian yang mereka miliki kemudian diaplikasikan dalam action plan yang nyata. Melalui proses ini akan muncul berbagai pertanyaan membangun pada diri siswa seperti, “Lomba apa yang akan saya ikuti semester ini?” “Hal apa yang bisa saya lakukan untuk membuat orang tua bangga tahun ini?“ “Apa yang bisa saya lakukan agar target saya untuk memahami pelajaran ini dapat tercapai?” Serta beragam pertanyaan membangun lainnya.

Dengan itu semua, tentunya kembali ke sekolah tidak hanya sekedar menjadi waktu kembalinya siswa ke dalam suatu rutinitas, melainkan proses perbaikan diri untuk menggapai prestasi yang gemilang. Dengan visualisasi mimpi, siswa akan memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk kegiatan-kegiatan yang lebih produktif karena mereka semua fokus untuk memperbaiki diri dan mencapai mimpi-mimpi besar yang mereka miliki. Selamat memvisualisasikan mimpi, selamat menyusun langkah nyata, selamat menggapai prestasi gemilang!

Muhammad Irfan HasanMahasiswa Farmasi Universitas Indonesia
Peserta Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Jakarta
Project Manager Avicenna Community
Project Officer Community Development
PPSDMS Jakarta